
Hard to get, and hard to hold.
Of all the girls I've ever met,
You're the one I can't forget.
I do believe that God above,
Created you for me to love.
He chose you from all the rest,
Because he knew I would love you best.

After Romeo drank his purchase from the apothecary, he sputtered and slowly slipped into unconsciousness, as was his goal. Juliet, waking, found Romeo dead on top of her and committed suicide. The Prince and the families of the young couple rushed into the chamber, where Laurence told of their secret marriage. As the proud heads of the two feuding families made peace, the effects of the poison that had seemed to cause Romeo’s death wore off. He had been duped; the poison did not end his life.
Aghast, the crowd in the burial chamber watched him cry over Juliet, and his sorrow was too much for the crowd to bear. They leave him with his misery, and wait outside. Unheeding, Romeo agonized on how his first plans for happiness went so horribly wrong, and suddenly realized his horrible mistake. Juliet had been alive when he drank the poison! She died because of him! Romeo sank into despair, his bloody love sinking in his arms, her dark blood staining his travelers clothing, making him look the part of a grisly murderer.
No! He cried silently, it could not have been my fault my wife is dead. His pain wreaked mind groped for someone to lay blame on. Friar Laurence, for marrying them, if I had not been married, she would have not been desperate enough to kill herself. No, that did not sound right. Why did I have to meet this maiden who would give me so much grief! He thought wildly, and remembered the party, where he had first met his deceased love. Mercutio! Mercutio was the guilty one, by all reason. Or Benvolio, were they not the ones who led Romeo to the party where he met his doom?
So he stayed for a day and a night, and none dared enter, for he had attacked with such a fury those who dared disturb him that he was declared mad, and unfit for human contact as a result of mind-killingl grief. Why did he not kill himself like Juliet? Because Romeo needed to know why this had come to pass. After a day of torment, he decided that fate had squashed him with a finger, and there was no denying the fact. With an unnerving calm, he emerged from the cavern, dust made mud by blood clinging to his clothing, and hugged his father, Juliet’s father, and kissed the cheek of everyone present. With worried faces they watched as he strode back into the burial chamber, standing as straight as a rod, and with inhuman strength closed the door opening. He was never seen again, but the most unhappy blooms marked the places he had treaded as he had given his goodbyes to the two families, sealing their newfound friendship.
I love the way you look at me,
A special world for you and me
A special bond one cannot see
It wraps us up in its cocoon
And holds us fiercely in its womb.
Its fingers spread like fine spun gold
Gently nestling us to the fold
Like silken thread it holds us fast
Bonds like this are meant to last.
And though at times a thread may break
A new one forms in its wake
To bind us closer and keep us strong
In a special world, where we belong.

Anakku duduk di kelas tiga SMU, yang berarti tak lama lagi, seperti jutaan anak di kelas itu, ia harus membuat keputusan penting yang konsekuensinya akan ia tanggung seumur hidupnya : Siapa yang akan jadi teman kencannya untuk pesta prom?
Juga suatu saat ia mungkin akan memilih universitas. Malah, kami sudah mengikuti kunjungan kek beberapa kampus, yang membantu dalam memiliha univerrsitas, karena kita bisa memperoleh jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan akademis yang penting, misalnya :
Atau ini hanya pilihan untuk mahasiswa S1 ?
Kebanyakan kunjugan ke kampus mencakup sesi orientasi. Dalam sesi ini kau duduk di ruang kuliah, dan seorang pegawai kampus akan menceritakan statistik yang mengesankan tentang kampus tersebut, dan hampir selalu termasuk ukuran kelas yang kecil. Kecilnya suatu kelas selalu dianggap ukuran pamungkas mengenai mutu suatu universitas. Harvard, misalnya, memiliki nol mahasiswa per kelas : Dosennya hanya duduk sendirian di ruang kuliah, mengikir kuku.
Kuperhatikan, dalam sesi orientasi semacam ini kebanyakan anak tampak setengah bosan, sementara orangtuanya tak hanya mancatat tetapi juga paling banyak bertanya, kadang-kadang sepertinya mereka, hingga kematian si anak nanti. Biasanya ada anak yang kelihatannya baru berusia sebelas tahun, dan ayahnya mengacungkan tangan dan bertanya : “ Kalau putri saya mengambil empat jurusan dalam biologi, kimia, fisika dan persamaan besar yang menakutkan, dan ia lulus dengan pujian, lalu mendpat gelar doktor di bidang kedokteran, teknik, hukum, arsitektur, kedokteran gigi, dan pengaweatan hewan, lalu ia memenuhi persyaratan untuk beasiswa merwanger untuk kajian pasca-doktor, apakah organisasi Nobel akan membayarkan biayanya pergi ke Swedia untuk mengambil hadiahnya?”
Hatiku ciut melihat para orangtua ini. Sejujurnya, aku belum terlalu memikirkan tujuan akademis putraku. Aku bersaumsi, ia kuliah untuk alasan yang sama sepertiku, yaitu tiba satnya kita tak boleh lagi sekolah di SMU. Aku mencoba memikirkan pertnyaan untuk para peagwai kampus itu, tapi satu-satunya yang terpikir hanyalah : “Mengapa bangku-bangku kelas tak pernah dirancang untuk orang-orang kidal sepertiku ?” Tapi aku tidak menanyakan hal itu, karena menyebutkan “orang kidal” mungkin dianggap kurang “sopan” di kampus. Mungkin harus menyebutnya dengan, misalnya,”orang bertangan kiri.”
Setelah selesai sesi orientasi, kami mengikuti tur kampus yang dilakukan oleh seorang mahasiswa yang diharuskan memberitahukan nama setiap bangunan di kampus, betapapun banyaknya (“Di sana adalah Institut Gwendolyn A. Heckenswacker untuk Kajian Molluska Asia Tertentu, yang kami sebut ‘The Heck.’ Dan di sana adalah Pusat Myron dan Gladys B. Prunepocket untuk Buku-buku Tua Berlumut yang Tak Pernah Dibaca Orang. Dan tepat di sebelahnya adalah Bangunan Tepat di Sebelah Myron dan Gladys...”). Seusai tur, anak-anak diwawancarai oleh pegawai kampus. Putraku hanya manceritakan sedikit tentang apa yang terjadi dalam wawancara semacam ini. Menurut teoriku sih, para pegawai menutup pintu dan berkata: “Santai saja. Kau akan melewatkan sebagian besar waktu kuliah dengan pergi ke pesta, bermain balap karung, dan menonton Friends. Tur ini semata-mata untuk para orang-tua. Para pemandu mengarang-ngarang sendiri nama-nama bangunan itu.”
Salah satu kampus yang dikunjungi putraku adalah almamaterku, Haverford College (motto yang dibanggakan: “Salah Satu Pelopor di Negeri Ini yang Tidak mengandalkan football”). Aku sedikit gugup untuk kembali ke sana: aku takut sewaktu-waktu sang rektor akan menepuk pundakku dan berkata:”Saudara Barry, kita harus membicarakan bagian Anda dalam iuran Angkatan 1969 untuk membayar biaya membersihkan langit-langit kantin akibat dua puluh tiga ribu blok mentega.”
Untungnya, itu tak terjadi. Pemandu mahasiswa kami memberikan tur yang baik, meskipun ia tidak menunjukkan beberapa tempat bersejarah di Haverford, termasuk:
Itulah kenanganku yang paling jelas, meskipun aku juga samar-samar ingat menghadiri kuliah dan mempelajari berbagai fakta jurusan Bahasa Inggris yang masih bermanfaat kapan saja topik percakapan berbelok ke—seperti yang sering terjadi—puisi metafisika Inggris Abad Ketujuh Belas. Ya, kuliah adalah pengalaman yang berharga bagiku, dan aku yakin kuliah juga akan menjadi pengalaman yang berharga bagi anakku, dimanapun ia memutuskan untuk kuliah. Maksudku, malam pesta prom akan selalu merupakan pengalaman berharga.
Di kubangan di atas pasir
Aku menemukannya
Dan ku taruh ia ditanganku
Bintang laut kecil mungil
Hanya sebesar ibu jariku
Bintang laut keemasan yang basah
Tanpa ada yang punya
Aku hendak mengambilnya
Dari kubangan di tepi laut itu
Akan kubawa pulang untukmu
Sebagai tanda sayang dariku
Tapi bintang laut di tanganku
Kulitnya mulai mongering
Kalau diambil dari rumahnya di pantai ini
Hadiahku untukmu akan mati
Aku menemukan bintang laut kecil
Di kubangan di tepi laut
Siapa pun yang kelak menemukannya
Ku harap akan membiarkannya di situ
Seperti diriku
Lalu hadiahku untukmu?
Akan kuberikan yang paling bagus
Bintang laut kecil itu
Kubiarkan demi dirimu